Dua puluh satu.

Aku merasakan sepi ini lagi.
Sepi yang kian hari semakin membeku, membekukan hatiku.
Aku kesepian, tapi aku tak mencari orang untuk meramaikan.
Karena aku tahu, hanya satu orang yang mampu menghapuskan sepi ini dan sekarang ia telah pergi.
Aku tak ingin mengemis kepadanya agar ia kembali.
Cukup untukku menahannya selama ini.
Sekarang jika ia ingin pergi, aku takkan menahannya.
Namun mungkin hati ini akan tetap menunggunya.
Aku mungkin melangkah terus ke depan, tapi aku bekukan hati ini hanya untuk satu orang.
Entah mengapa aku terus menahan ia dan memenjarakannya dalam hatiku.
Aku hanya tak tahu bagaimana caranya menyuruh ia keluar dan pergi dari hatiku.
Aku ingin menukar sepiku ini dengan keceriaan seperti pertama aku mengenalnya. Tapi aku sadar, aku takkan bisa melakukannya.
"Mengapa harus pergi? Aku baru saja ingin memulainya", batinku.
Mungkin aku yang terlambat datang, atau mungkin memang kita tak ditakdirkan untuk bersama.
Tapi dalam hatiku, aku tak ingin berpindah ke siapapun lagi.
Aku tahu menunggu sesuatu yang tak pasti memang menyakitkan, entah dia akan kembali atau tidak, tak seorangpun tahu. Tapi jika boleh jujur, melepasnya jauh lebih sakit daripada menunggunya.
Aku tak tahu harus memulai darimana jika ingin melupakannya.
Aku lupa cara bagaimana dulu aku bahagia sebelum kau hadir di hidupku.
Yang jelas, kali ini aku hanya mengharapkanmu kembali.
Entah sampai kapan aku menunggu..

Comments

Popular Posts